6/20/2014
4
Senang rasanya diizinkan masuk di kelasnya mba Okka Barokkah "Poetry Workshop For Women". Padahal saya sudah terlambat hampir sejam untuk mengikuti kelas tersebut. Di hari pertama MIWF  tanggal 4 Juni 2014 saya daftar 3 workshop sekaligus (serakah banget ya). Oh tidak... bukan serakah, itu karena saya kurang teliti melihat jadwal workshopnya yang jika diikuti semuanya jadinya bertabrakan jadwalnya. Jadi saya membabi buta mendaftar tiga workshop tersebut. H-1 MIWF saya baru nge-print tiketnya dan baru memperhatikan jadwalnya. 

  • Poetry workshop for women, with Okka Barokka, 4 Juni 2014, pukul 2.00 PM to 6.00 PM
  • International Program Workshop : An Authentic Story Teller, 4 Juni 2014, pukul 3.00 PM to 5.00 PM
  • International Program Workshop : Singing Your Poetry!, 4 Juni 2014, pukul 4.00 PM to 6.00 PM


Pukul 14.40 saya tiba di Benteng Fort Rotterdam, belum terlalu ramai memang. Saya lihat ketiga tiketku rasanya tak memungkinkan lagi untuk ikut Poetry Workshop For Woman. Jadi saya ke Main Hall untuk ikut Workshop An Authentic Story Teller. Tapi setelah tiba di sana belum ada peserta yang hadir, hanya panitia yang sibuk hilir mudik mengatur persiapan workshop nanti. Saya lihat sekeliling belum ada teman-teman IIDN yang datang ataupun teman dari komunitas lain yang saya kenal.
Saya pun berpikir mungkin salah satu atau beberapa teman ada yang sedang ikut kelas Poetry Workshop For Women. Ada baiknya saya mencoba ke sana dan bertemu dengan mereka. Soalnya bete menunggu sendirian di Main Hall.



Saya bertanya ke panitia yang ada di ruangan itu
 “Dik, dimana tempat workshop ini, masih bisa ji masuk  walau telat?” sambil menunjukkan tiket saya. Lokasi yang tertulis di situ I Lagaligo Museum. Saya memang sering ke Fort Rotterdam tapi kurang tahu persis letak-letak gedungnya.

“Siapa tahu masih bisa ji kak, mari saya antar ki” Jawab gadis berjilbab itu.

Sesampai di I Lagaligo Museum kami bertanya kepada panitia yang ada disana sambil menunjukkan tiket saya. Panitia sepertinya sudah agak keberatan untuk mengizinkan saya masuk karena keterlambatan saya. Tapi dia masuk ke dalam ruangan dan bertanya kepada mba Okka.

Akhirnya saya diizinkan masuk. Seorang wanita semampai, memakai dress panjang merah maroon, berambut pendek, dan berkacamata. Mbak Okka Barokka menyambut saya dengan ramah dan penuh keceriaan. 

Cukup kaget sebenarnya. Belum duduk dengan manis saya sudah ditodong ke depan untuk memperkenalkan diri. Tapi memperkenalkan dirinya dengan cara yang berbeda (Maksudnya???)

Saya juga cukup bingung bagaimana harus memperkenalkan diri apalagi harus dengan cara menyanyi, berpuisi, atau apalah itu. Kata mba Okka sebelumnya peserta yang lain satu per satu memperkenalkan diri dengan berbagai cara dan gaya unik peserta.

Karena saya bingung dan speechless, akhirnya saya Cuma berkata “Hai... nama saya nunu” dengan nada ceria sambil melambaikan tangan.



Peserta workshop yang hadir di ruangan ini tak terlalu banyak sekitar 14 orang dan tak ada satupun yang saya kenal.
Karena telat datang saya sudah melewatkan sesi pemberian materi. Sesi berikutnya adalah masing-masing peserta membuat puisi dalam waktu 10 menit. Dan tema puisinya tentang “diri sendiri” dan masing-masing peserta harus membacanya di depan.

“Hadeh... matemija, buat puisi saja jarang. Apalagi baca puisi dan didepan orang-orang”. Kataku dalam hati. “Saya salah masuk workshop nih”.

Sebelum kami ke depan untuk membaca puisi masing-masing, mba Okka memberikan contoh cara membaca puisi.
Saya seperti tersihir menyimak mba Okka memberi materi kepada kami semua. Lucu, ceria, kreatif, interaktif, dan padat. Apa lagi ketika mba Okka membaca puisi berbahasa inggris. Saya memandangnya dengan terkesima walaupun saya tidak begitu paham artinya saya hanya bisa berkata dalam hati “WoW... WoW... dan WoW”.

Mba Okka membuka wawasan saya tentang puisi. Membaca puisi tak harus selalu dengan cara deklamasi. Mba Okka mencontohkan beberapa gaya berpuisi dan dengan intonasi yang berbeda.

Kami pun naik satu per satu membacakan puisinya. Kelas yang sangat interaktif karena tiap teman-teman yang sudah membacakan puisinya kita diharuskan mengomentari teman kita tersebut. Entah itu dari isi puisinya, cara membacanya, penekanan, penghayatan, intonasi, mimik, kontak mata, dan sebagainya.

Teman-teman yang sudah naik membaca puisi mereka bagus-bagus semua. Bahkan ada yang membuat saya terharu dan menitikkan airmata dengan puisinya.

Jadi kepikiran, kalau saya kedepan membaca puisi saya harus bagaimana? Apa saya bisa sebaik mereka? Saya sedikit malu dengan puisi dadakan buatan saya hehe... entahlah apa itu masih bisa dibilang puisi ya :D

Tiba giliran saya. Entah dapat keberanian darimana bisa naik ke depan se-PeDe itu. Sebelum membaca puisi, saya intermezo dulu alias basa-basi.

“Sebenarnya ini pertama kalinya saya membaca puisi di depan banyak orang. Saya juga jarang menulis puisi. Saya hanya penikmat puisi. Senang melihat orang membaca puisi. Kalau kurang jelas mohon dimaklumi”

Nunu

Nunu, itu nama saya
Nunu, saya selalu disapa seperti itu
Nunu, Empat huruf yang terkandung didalamnya


Empat huruf itu ada filosofinya
Kalian tahu apa itu?
N, Nunu selalu tersenyum disaat sulit maupun senang
U, Usiaku dua puluh sembilan
Tapi jiwaku masih seperti berusia tujuh belas
N, Nunu seorang perempuan yang selalu bersemangat dalam hidupnya
U, Untuk kalian puisi ini dan sekarang kalian telah mengenalku


WoW... Surprise banget, seisi ruangan mengapresiasi saya. Mereka menyukai cara membaca puisi. Mba Okka sampai memberikan saya pelukan.

Kata mereka saya begitu menghayati puisi saya. Saya memang menghayatinya bahkan di bait “N, Nunu seorang perempuan yang selalu bersemangat dalam hidupnya”  saya sedikit tercekat menahan tangis dengan suara agak parau.

Saya berusaha mempraktekkan cara mba Okka membaca puisi. Tidak harus selalu dengan deklamasi, membuat gerakan-gerakan, dan kontak mata dengan penonton.

Walaupun saya tak sempat ikut sesi awal yang berisi teori. Saya bisa dapat inti dari workshop ini, karena kelasnya sangat interaktif. Lebih banyak praktek di banding teori. Workshop yang tidak satu arah saja. Tapi kami bisa saling berinteraksi, bebas berkreatifitas dan berkomentar. Dan saya merasa sangat beruntung bisa mengikuti workshop ini.

Bayangan saya sebelumnya workshop ini sama seperti workshop-workshop yang sering saya ikuti. Setelah pematerinya cuap-cuap mempresentasikan materinya sampe bikin kita ngantuk. Baru sesi terakhir tanya jawab.

Kelas Workshop ini benar-benar beda. Kelas yang WOW.
Hehe... saya sampai lupa ada dua  workshop yang terlewatkan.

Workshop Poetry For Women berakhir sampai pukul 18.30. Lama ya!!!
Iya lama... setelah membaca puisi masing-masing, kami diberi challenge lagi membuat puisi tapi kali ini bersama teman-teman. Masing-masing berpasangan. Saya berpasangan dengan vika. Mahasiswi cantik yang pandai sekali merangkai kata menjadi puisi.
Mba Okka menawarkan kami tampil di acara Closing Ceremony MIWF 2014 dan membaca puisi masing-masing.
WoW... tawaran yang menggiurkan. Tapi sayang saya tidak bisa menghadiri Closing Ceremony karena tanggal 7 Juni 2014 adikku menikah.

Selesai workshop saya tidak menyangka di cegat sama seorang wartawati. Dia dari koran Tempo Makassar. Dia mau mewawancarai saya karena tadi di kelas Workshop Poetry For Woman dia melihat saya membaca puisi. (Ups... saya baru sadar ada wartawan tadi di dalam kelas).
Btw, ada yang punya korannya tidak?

Yup... itu dulu kawan, sedikit coretan pengalaman saya mengikuti MIWF 2014. Semoga bermanfaat.















4 comments:

  1. N, Nunu seorang perempuan yang selalu bersemangat dalam hidupnya memang kak ni menyentuh, serius. :D btw kata WOW menjadi mainstrem di IIDN di' :D

    ReplyDelete
  2. Wah di koran apa mi itu Nu?

    Btw pengalamannya keren, tulisannya juga .. like it :)

    ReplyDelete

Silakan Berikan Komentar, Saran, dan Kritik Untuk Postingan Ini, yang sopan ya ^^ dan please jangan spam

Followers

My Community

Komunitas Blogger Makassar, Anging Mammiri Photobucket Photobucket
kumpulan-emak-blogger Blogger Perempuan

Blogger Reporter Indonesia

ID Corners