Nunu Amir Blog
  • Home
  • About
  • Disclosure
  • Features
    • Berbagi
    • Digital
    • Review
      • Gadget
      • Produk
      • Webinar
      • Website
      • Buku
      • Kesehatan
    • Slice of Life
    • Buku Saya
    • Religi
    • Traveling
    • Resep
  • Contact Us
Menjadi seorang Pegawai Negeri Sipil boleh dibilang adalah impian sebagian besar rakyat Indonesia berusia produktif. Setiap tahun seleksi penerimaan CPNS di gelar dan peminatnya tetap membludak.
Persaingan pun kian ketat tiap tahunnya. 

Untuk tahun 2014 Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi menyediakan 300 kuota CPNS khusus untuk penyandang disabilitas. 

Setelah membaca pengumumannya di salah satu sosial media 4 November 2014 lalu. Saya pun mengunduh persyaratan dan formasinya.  Setelah membacanya Insya Allah bisalah memenuhi persyaratan yang diminta. 

Ini bukan kali pertama saya mendaftarkan diri dalam seleksi CPNS di Kementerian Sosial. Tepatnya pada tahun 2007 dan 2010 saya mencoba mendaftar tapi sayang selalu gagal di seleksi administrasi.
Di tahun ini saya ingin mencoba peruntungan, siapa tahu hoki :)

Saya pun melakukan pendaftaran online di portal CASN. Alhamdulillah berjalan lancar. Setelah mendapatkan nomor registrasi dan formulir pendaftaran, saya pun melengkapi berkas-berkas yang harus dilampirkan. 



Saya ke kampus untuk legalisir ijazah, transkrip nilai, dan surat akreditasi jurusan. Kemudian ke studio photo untuk photo terbaru berlatar biru, dan melengkapi berkas lainnya sebagai persyaratan.
Setelah hampir semuanya lengkap, masih ada satu berkas yang kurang. Poin 10 "Surat Keterangan dari dokter yang menyatakan jenis disabilitas (1 rangkap guna mempermudah identifikasi, penyiapan lokasi ujian dan aksesibilitas yang mendukung".

Surat keterangan inilah yang amat sangat sulit untuk didapatkan. Berikut pengalaman saya : 

Pertama, saya pergi ke dokter praktek umum tempat saya biasa memeriksakan diri ketika kurang sehat. Tapi sayang dokter tersebut mengatakan tidak bisa  membuat "Surat Keterangan Jenis Disabilitas". Saya disarankan untuk ke rumah sakit umum milik pemerintah.

Besok paginya, saya mencoba ke dokter Puskesmas. Siapa tahu dokter Puskesmas bisa memberikan Surat Keterangan tersebut. Setelah sekian lama antri ujung-ujungnya dokter Puskesmas juga menolak dan menyarankan hal yang sama seperti dokter pertama tadi. 

Saya berusaha mengingat-ingat siapa teman  yang bekerja di rumah sakit yang bisa membantu untuk mempermudah mendapatkan Surat Keterangan Jenis Disabilitas. 
Saya pun menelpon teman kuliah yang bekerja di Rumah Sakit Pelamonia. Setelah berbincang lama dan menjelaskan segalanya Alhamdulillah dia mau membantu saya. 

Hari berikutnya saya ke rumah sakit Pelamonia. Kami ke ruang dokter orthopedi. Sayang pagi itu dokternya tak ada di tempat. Katanya lagi ke luar kota. Pada saat itu hari jumat, mantri yang ada di ruangan itu meminta agar saya datang hari senin.

Senin pagi sebelum berangkat ke rumah sakit Pelamonia, Saya menghubungi teman saya apakah dokter orthopedi sudah ada di tempat atau belum. Setelah beberapa menit menunggu jawaban, teman saya BBM katanya dokter Orthopedi juga tidak bisa memberikan Surat Keterangan Jenis Disabilitas.

Oh... my God...
Mengapa begitu sulit mendapatkan Surat Keterangan Jenis Disabilitas???
Saya sudah mulai menyerah, saya tidak mungkin terlalu banyak izin di kantor.

Setelah menghubungi beberapa teman, mereka menyarankan untuk ke rumah sakit Pemerintah seperti Rumah Sakit Labuang Baji dan Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo.

Selasa pagi saya memilih ke rumah sakit Labuang Baji karena cukup gampang diakses dengan transporatasi umum.

Setelah sekian lama antri di loket untuk registrasi, saya pun mendapatkan kartu registrasi dengan biaya administrasi sebesar Rp. 35.000,-
Pegawai loket memberikan petunjuk agar saya ke bagian Medical Check Up di lantai 2. 
Sampai di ruang Medical Check Up hanya ada seorang pegawai di sana. 

"Dokternya belum datang. tunggu ma ki sampai jam 9". Kata pegawai tersebut.

Astagfirullah, inilah yang saya takutkan pengurusannya lama dan berbelit-belit sehingga saya harus izin lagi di kantor.

Setelah duduk menunggu di koridor rumah sakit selama setengah jam, pukul 9.00 sang dokter belum datang juga. Saya menunggu setengah jam lagi, dokternya baru datang jam setengah sepuluh lewat.

Setelah di tanya tujuan pengurusan, saya pun menjelaskan dan memperlihatkan Poin 10 yang saya sebutkan diatas. 
Beliau pun memeriksa fisik saya yang mengalami disabilitas, dan memberikan rujukan untuk pergi ke beberapa poli antara lain poli THT, poli syaraf, dan poli Orthopedi.

What!!!!
Ribet amat ya?

Pertama, saya ke poli THT di lantai 2. Sesampainya di poli THT, suster yang ada di poli tersebut menyarankan saya ke poli sesuai urutannya. Urutan Pertama adalah poli Orthopedi, kedua poli THT, ketiga poli syaraf. 

Saya pun turun ke lantai 1 tempat poli Orthopedi. Suster yang ada di sana komplain karena saya hanya membawa surat pengantar dari dokter dan kartu registrasi tanpa menyertakan map. Saya di suruh ke loket untuk meminta map.

Setelah mendapatkan map saya ke poli Orthopedi lagi. Susternya menyarankan lagi agar saya ke poli THT dulu karena dokter lagi sibuk.

"Sus, tadi saya ke poli THT, tapi saya di suruh ke sini dulu". Saya mulai kesal karena merasa di ping pong sana sini.

"Ke THT ma ki dulu. Daripada lama ki menunggu disini". Saran susternya.

Saya pun naik ke lantai 2 lagi tempat poli THT berada.
Syukurnya saya tidak di ping pong lagi.

Sebelum tes pendengaran. Dokter THT memeriksa telinga saya.
Setelah di senter ternyata ada kotoran telinga yang membeku (padahal saya rajin loh bersihkan telinga).

"Loh kok di korek?!?" kataku dalam hati. Saya berteriak kecil karena tak dapat menahan sakit.

"Saya beri resep obat tetes ya, tetes dulu telinganya nanti hari jumat balik lagi ke sini dan dibersihkan kembali". Kata bu dokter.


Ini bukan kali pertamanya saya ke dokter THT. Kok cara penanganannya untuk membersihkan telinganya beda ya. Di dokter praktek THT tempat saya biasa memeriksakan diri, beliau membersihkan kotoran telinga yang membeku dengan menyemprot  air dan menggunakan alat pengisap prosesnya hanya beberapa menit. Pendengaran langsung jernih setelah dibersihkan.
Dan saya di suruh balik lagi ke sini hari jumat, itu artinya tanggal 21 november 2014. Terakhir pengiriman berkas tanggal 23 november 2014 cap pos. Sudah sangat mepet waktunya.

Di Poli THT saya dikenakan biaya Rp. 50.000,- untuk pemeriksaan tadi.

Setelah itu saya ke lantai 1 lagi ke poli Orthopedi. Dokter masih sibuk. Saya disarankan ke poli syaraf dulu. Sebelum masuk ke ruang poli syaraf ada suster yang berjaga di depan. Dia memeriksa untuk tensi tekanan darah. Alhamdulillah normal.

Ruangan poli syaraf sangat ramai. Bukan ramai karena pasien, tapi ramai dipadati dokter-dokter muda. Pemeriksaannya bagi saya cukup mudah dan tes sederhana saja. Tidak memakai peralatan canggih. Memeriksa bola mata, motorik tangan (dengan menulis dan melengkapi gambar ataupun titik-titik), daya ingat, berhitung, dan lain-lain. Alhamdulillah hasilnya normal saya tidak mengalami gangguan syaraf.

"Bisa ja ki menulis di'" kata dokternya ketika saya mulai memegang pena saat mengisi soal tes

"Dok, dua tangan saya ini memang kelihatan tidak normal. Tapi saya bisa mengerjakan semua pekerjaan rumah, menulis, dan mengetik". Terang saya.

Dan membuat saya amat sangat kaget. Biaya untuk semua pemeriksaan dan tes sederhana tersebut sebesar Rp. 302.000,-

What!!! uang yang saya bawa tidak cukup. Saya pun menelpon ibu saya agar bisa datang ke rumah sakit dan memberi uang tambahan.

Saya pun kembali ke poli Orthopedi. Kali ini dokter sudah tidak ada di tempat. Kata susternya lagi ada operasi. Saya disuruh kembali lagi besok. OMG... besok lagi.
Saya pun bertanya kepada suster tersebut berapa biasanya biaya yang harus dibayar untuk pemeriksaan orthopedi, agar besok saya bisa menyiapkan dananya. Katanya kalau orthopedi jika ada pemeriksaan menggunakan foto rontgen biayanya Rp. 200.000 per sekali foto. What!!!!

Malam harinya saya ke dokter THT untuk membersihkan telinga. Kalau pake obat tetes dan harus menunggu sampai hari jumat, terlalu mepet waktunya. Bisa-bisa berkas saya sudah tidak bisa di kirim.

Hari kedua pengurusannya. Saya ke poli THT lagi, tapi dokternya belum datang, saya di sarankan ke poli Orthopedi dulu . Saya pun turun ke lantai 1  dokter Orthopedi juga belum datang. Suster menyarankan agar saya menunggu di poli THT. Astagfirullah...
Ambil positifnya saja bisa olah raga pagi naik turun tangga.

Saya ke poli THT lagi. 

"Tunggu ki sebentar, dokter belum datang karena mau diperiksa telinga ta". Kata susternya.

"Telinga saya sudah bersih sus, semalam saya ke dokter THT untuk membersihkan. Kalau saya pake obat tetes terlalu lama menunggu hingga hari jumat". Jelas saya.

"Oh... kalau bersih mi telinga ta bisa mi di tes pendengaran ki. Kalau dokter untuk tes pendengaran sudah datang".

Setelah di tes saya diberi surat keterangan yang harus ditandatangani oleh dokter yang belum datang. Dan suster tidak tahu dokter datang jam berapa.  Jadi map saya harus di simpan dulu. Benar-benar menguji kesabaran ya.

"Atau begini sus, bisa saya bawa map ku dulu, karena saya mau ke Orthopedi. Nanti kalau selesai pemeriksaan orthopedi saya bawa kembalikan ke THT". Jelasku dan suster menyetujui.

Sesampai di poli Orthopedi, dokternya belum juga datang.

"Jam berapa datang dokternya sus?, masalahnya saya tidak bisa terlalu banyak izin di kantor. Rekan kerjaku lagi cuti."

"Tunggu sampai jam 10" kata susternya.

"Bagaimana ya sus, saya masuk kantor pukul 9.00. Sebentar lagi jam 9.00" kataku mengiba

"Dok, tidak bisakah kita yang periksa ki". Kata suster tersebut pada seorang dokter laki-laki di sudut ruangan.

Alhamdulillah dokter tersebut mengiyakan. Setelah sekitar 10 menit memeriksa tangan dan kaki saya. Saya pun di minta ke loket untuk biaya pemeriksaan sebesar Rp. 50.000,-. Alhamdulillah biayanya tidak sebesar yang saya pikirkan.

Hari ketiga, saya meminta tolong ibu saya agar bisa menguruskan. Saya pikir kan sudah diperiksa semuanya, tinggal ambil berkas yang ditandatangani dokter THT dan surat keterangan jenis disabilitas.
Saya tidak bisa izin lagi, karena rekan kerja saya di kantor lagi cuti. Otomatis pekerjaannya numpuk ke saya.

Jam 12 ibu saya menelpon. 

"Tidak bisa nu, kamu harus datang ke rumah sakit karena dokter (dokter di bagian medical check up) harus lihat kamu" kata ibu saya

"Loh... bukannya kemarin dulu dokter sudah melihat saya secara langsung".

"Tidak bisa, katanya kamu harus datang. Kalau tidak dia tidak mau memberikan surat keterangan. Minta izin saja"

Untungnya jam makan siang, saya izin ke atasan bahwa saya mau makan siang di luar (biasanya makan siang di kantor saja karena bawa bekal).

Sampai di ruang medical check up ternyata dokternya lagi makan siang. Jadi saya harus menunggu dokter tersebut selesai makan. Pegawai di ruangan tersebut berkata kepada saya "kenapa tidak dari kemarin-kemarin ki urus biar tidak mepet seperti ini".
"Astagfirullah... saya sudah dua minggu ini mengurus surat keterangan disabilitas mulai dari dokter praktek, puskesmas, rumah sakit lain  tapi tidak ada yang mau"

Setelah diperiksa oleh dokter. Pegawai tersebut membuatkan saya Surat Keterangan Disabilitas. 
Alhamdulillah, untuk mendapatkan selembar kertas ini butuh perjuangan dan pengorbanan baik dari segi materi, tenaga, dan perasaan.




Apa yang saya ceritakan pada tulisan ini bukan  bertujuan untuk merusak nama baik sebuah instansi. Bukan... bukan.... itu maksud saya. Saya hanya berbagi pengalaman dan bertutur apa adanya sesuai yang saya alami.

Saya berharap kedepannya untuk pengurusan Surat Keterangan Jenis Disabilitas lebih dipermudah lagi. Jika prosedurnya memang seperti itu, mungkin perlu dikaji ulang lagi. Agar pelaksanaan prosedur tersebut lebih efektif dan efisien. Jika selama ini pengurusannya memerlukan waktu beberapa hari, kedepannya bisa menjadi sehari saja

Jika dibaca baik-baik poin 10 :
 "Surat Keterangan dari dokter yang menyatakan jenis disabilitas (1 rangkap guna mempermudah identifikasi, penyiapan lokasi ujian dan aksesibilitas yang mendukung".

Dokter cukup memberikan keterangan apakah pasien tersebut mengalami disabilitas apa?
Apakah tuna daksa? tuna netra? Tuna Rungu? Tuna Wicara? Tuna Grahita? dan lain-lain

Dokter cukup melihat apakah pasien tersebut menggunakan alat bantu seperti kursi roda, tongkat, protese, cruck, dan sebagainya sehingga panitia ujian bisa menyiapkan aksesibilitas yang mendukung berjalannya ujian dengan lancar.
Belum harus diperiksa secara menyeluruh. Nanti jika lulus tahap selanjutnya dan membutuhkan General check up baru deh berkelana dari poli ke poli.

Mungkin hal ini  kurang di pahami oleh paramedis. Setelah berbincang dengan ketua HWDI Sulawesi Selatan via SMS. Memang perlu adanya advokasi sehingga kedepannya pengurusan Surat Keterangan Jenis Disabilitas lebih dipermudah. 
Cukup saya saja yang mengalaminya. Jangan sampai ada teman-teman lain yang mengalami hal serupa.




Makassar, 3 Desember 2014
Selamat Hari Disabilitas Internasional








"Yeay... ke Bugis Waterpark!!!" Saya surprise plus senang bingitzzz baca tweet dari Paccarita. Alhamdulillah bisa terpilih dan diberi kesempatan gratis menikmati wisata air sambil nge-blog.
Saya langsung menelpon Ida (teman di komunitas IIDN Makassar) yang juga dapat mention Paccarita. Saya pun janjian dengan Ida untuk berangkat bareng.

Saya bergegas membereskan pakaian dan menyediakan alat tempur yang akan saya bawa kesana (hehe.... emang mau perang). Bukannya mau perang, kita kan mau main air sambil ngeblog 
pastinya harus disediakan segala hal yang dibutuhkan. Mulai dari pakaian untuk mandi dan pakaian ganti, laptop beserta chargernya, modem, power bank, dan kabel data.

Ini kali pertama saya ke Bugis Water Park, jadi saya sangat bersemangat untuk ke sana. Selama ini hanya penasaran mendengar cerita dari orang sekitar. Alhamdulillah hari ini bisa menikmati keseruannya, apalagi sambil ngeblog. Makin mantap dah....

Kami menggunakan transportasi pete-pete dan taxi untuk menuju ke Bugis Waterpark. pertama kami naik pete-pete H jurusan Antang setelah itu kami naik taxi untuk masuk ke kompleks perumahan Bukit Baruga. Kami baru tahu setelah mendapat info dari supir taxi bahwa bisa juga naik ojek untuk menuju Bugis Water Park.

Setelah sampai di depan gerbang loket Bugis Water Park saya men-tweet Paccarita bahwa kami sudah ada di depan pintu loket. Salah seorang anggota AM memberi kami tiket masuk. Kami pun diantar ke gazebo khusus untuk Paccarita. Gazebo yang nyaman, bantalnya empuk, asyik buat tiduran dan selonjoran sambil ngeblog.

Saya dan ida memutuskan untuk berkeliling-keliling dulu. Wow tempatnya asyik. Banyak wahana yang bisa dinikmati antara lain :

  • kolam luncur untuk dewasa (multislide and free fall, body slide, black hole, dan rafting slide)
  • kolam pijat (whir pool)
  • lazy river (bermalas-malasan diatas ban dan mengelilingi sungai di Bugis Water Park)
  • main pool (bisa berenang dan bermain volly)
  • kids pool (pemandian khusus untuk anak-anak)

Awalnya sih masih ragu mau ikutan main air atau tidak. Ga asyik main air sendirian karena ida tidak membawa pakaian ganti. Merasa tergiur melihat orang-orang bermain air akhirnya saya memutuskan untuk ikut mandi-mandi juga. 

Saya pun membasahi diri dengan hujan buatan yang tedapat disana. Setelah itu saya memilih bersantai sejenak di main pool. Karena tidak bisa berenang saya hanya melihat orang-orang berenang saja. Merasa bosan saya pun ke kolam pemijatan. Mantap bo' disana. Saya cukup lama berada disana. Lumayan bisa relaksasi setelah seminggu ini bekerja (saya memang butuh dipijat).

Setelah itu saya dan ida kembali berkeliling, kami pun tiba di wahana kolam luncur (body slide, black hole, dan rafting slide). Terbersit di hati saya, seru juga ya!!! tapi ada rasa khawatir kalau mau ikutan wahana tersebut. Saya pun bertanya ke ida yang sudah berpengalaman bermain kolam luncur.


"Seru kak, enak ki" kata ida

"Masa, tapi nanti ta'kandas ki pas di tengah baru na jatuhi ki orang dari atas". hehe... sebuah penyataan yang polos plus bego'.

"Hehe.... tidak ji kak karena pake ban pelampung ja ki. Jelas Ida. "Ayo mi, coba mi kak". Sambungnya memberi semangat.

"Naik tangga ki di' ke atas. capek ta itu" keluhku.

"Nassa mi kak, masa' naik lift ki hehe".

Saya lama berpikir akhirnya antara rasa penasaran dan takut. Saya pun memberanikan diri dan mencobanya.

Cukup tinggi juga tangganya. Sampai di atas lama juga saya berpikir. Melawan rasa takut. Saya sampe malu sama penjaganya.

"Tidak apa-apa ji itu pak" tanyaku takut-takut

"Tidak ji" jawab bapak itu

"Biar mi mereka duluan deh saya belakangan pi"

Setelah sekitar 10 menit saya pun memberanikan diri.

"Oke deh pak saya coba. Bismillah"

"Aaaaaaarrrrrrgggggghhhhhh"

Ternyata seru juga tak seseram yang saya bayangkan. Memang benar rasa takut itu harus di lawan, jangan dipelihara ya :D
Hehehe.... dan saya jadi ketagihan untuk uji nyali lagi.

Seru....seru.... seru....
Tidak rugi deh, ber-weekend ria di Bugis Waterpark. 
Terima kasih banyak Paccarita :)




Makassar, 9 Oktober 2014






Aisyah bahagia sekali. Ummi Ana, guru mengaji Aisyah memberikan kabar gembira. Sebentar lagi Aisyah akan mengkhatam Al-Quran dan dia akan di wisuda.

Pulang dari rumah Ummi Ana, tempat Aisyah belajar mengaji setiap hari. Aisyah berlari memasuki pekarangan rumahnya. Aisyah berteriak memanggil bundanya.

“Assalamu Alaikum.... Bunda... Bunda”. Aisyah mencari bundanya.

“Bunda di sini Aisyah”. Terdengar suara ibu dari arah dapur.

“Kenapa nih anak bunda? Baru pulang ngaji sudah teriak-teriak”. Keluh sang bunda. Sambil meraih tangan kecil Aisyah yang ingin mencium tangan bundanya.

“Bundahhh... Aisyah punya kabar gembirahhh”. Aisyah terdengar masih ngos-ngosan karena lelah berlari.

“Wah kabar gembira apa itu?”. Tanya bunda penasaran.

“Kata Ummi Ana, sebentar lagi Aisyah akan mengkhatamkan Al-Quran”. Dia begitu ceria sambil memeluk erat Syamil Quran yang dibawanya.

“Tinggal 1 juz lagi bunda dan Aisyah akan di wisuda”. Lanjut Aisyah sambil tersenyum memperlihatkan gigi ompongnya.

“Wow... anak bunda hebat”. Bunda memeluk anak semata wayangnya yang kini berusia 7 tahun.

“Ayah dimana bunda?”. Aisyah melepas pelukan ibunya dan mencari ayahnya .

“Ayah belum pulang nak?”. Jawab ibu

“Aisyah sana mandi dulu, baunya sudah asem tuh. Sudah itu kerjain PR ya”. Perintah bundanya.

“Baik bunda”. Aisyah berlari ke kamarnya.

Setelah mandi dan mengerjakan PR, Aisyah tak sabar menunggu sang Ayah. Matanya selalu melihat ke jam dinding dan ke arah pintu ruang tamu.

“Ayah belum pulang ya bun”. Keluh Aisyah.

“Sabar Aisyah, mungkin lagi macet di jalan”. Ibu menenangkan.

“Sudah mau maghrib bun, tidak biasanya ayah pulang telat”. Aisyah terlihat khawatir.

“Assalamu Alaikum”. Terdengar suara Ayah di balik pintu.

Aisyah berlari membuka pintu untuk sang Ayah.

 “Ayah... Ayah... Aisyah punya kabar gembira buat ayah”. Aisyah memegang tangan ayahnya sambil melompat-lompat.

“Hushh... bentar saja Aisyah, biarkan Ayah istirahat dulu. Ayah kan baru pulang, pasti capek”. Bunda menegur Aisyah.

“Biarkan saja bun”. Ayah tersenyum melihat wajah Aisyah yang ceria.

“Kabar gembira apa Aisyah?” Tanya Ayah ingin tahu.

“Sebentar lagi Aisyah akan khatam Al-Quran. Tinggal 1 juz lagi”.

“Wah hebat anak ayah”. Ayah mengelus rambut Aisyah. Bunda hanya menyimak.

“Kata Ummi Ana setelah khatam  tetap harus baca Al-Quran tiap hari. Biar Aisyah tidak lupa”. Aisyah kembali curhat kepada sang Ayah.

“Oh iya Aisyah... Harus rajin mengaji tiap hari biar dapat banyak pahala”. Ayah menambahkan.

“Ummi Ana juga bilang, kalau anak yang rajin membaca Al-Quran dan mengamalkannya, maka kedua orang tuanya akan mendapatkan mahkota dan kenikmatan di surga”. Aisyah menyampaikan nasihat dari guru mengajinya.

“Katanya lagi cahaya mahkota itu lebih terang dari cahaya matahari di dunia”. Lanjut Aisyah sambil merentangkan kedua tangannya

“Aisyah ingin rajin mengaji biar bisa memberikan mahkota itu untuk Ayah dan Bunda”. Ayah dan bunda terharu mendengarnya.

“Terima kasih nak... Insya Allah Aisyah jadi anak sholeha”. Ayah mencium kening Aisyah.

“Ayah...”. Aisyah menurunkan nada suaranya.

“Iya nak...” Jawab ayah.

“Kenapa Aisyah tidak pernah melihat dan mendengar Ayah mengaji?” Ayah terkejut mendengar pertanyaan anaknya.

Belum sempat menjawab pertanyaan Anaknya, Aisyah melanjutkan pertanyaannya “Apa Ayah tidak ingin memberikan mahkota untuk kakek dan nenek?”. Ayah hanya terdiam dan bertatapan dengan sang bunda. Ayah menjadi salah tingkah dengan pertanyaan Aisyah.



Flash Fiction 494 Kata
Diikutsertakan Dalam Lomba Menulis (Cerita) Flash Fiction Anak #AyoNgajiTiapHari















Beberapa waktu lalu saya lagi belajar bikin pancake dengan sedikit kreativitas ala chef nunu :D
Karena saat ini lagi bulan Ramadhan, stok kurma melimpah. Mengapa tak dicampur dengan pancake saja pikirku.

Biasanya pancake berkulit tebal dan agak padat. Tapi kali ini saya buat sedikit agak tipis kayak kue dadar tapi ga tipis-tipis banget juga, yang penting bisa di gulung.

Setelah upload foto Pancake Kurma Gulung Coklat Keju di Facebook ternyata banyak likers-nya dan komentar untuk berbagi resep.



Baiklah...Atas permintaan teman-teman facebook saya akan berbagi resepnya disini. Gampang kok buatnya.
Cocok buat takjil untuk berbuka puasa :D


Bahan :
  • 1 Bungkus Tepung Pancake Instant
  • 250 ml susu cair (kalau bisa yang low fat)
  • 1 butir telur
  • 2 sendok makan margarin dicairkan
  • 10 biji kurma di potong-potong kecil
  • Keju chedar parut
  • Coklat toping cair

Cara membuat :
  • Campurkan tepung pancake, susu cair, margarin cair, kurma dan telur dalam satu wadah. Aduk sampai rata.
  • Panaskan wajan anti lengket dan oleskan sedikit mentega
  • Tuangkan adonan ke wajan sebanyak satu sendok sayur
  • Biar matangnya merata, pada waktu menuangkan adonan tuangkan di tengah wajan
  • Balik jika adonan sudah terlihat sedikit berpori dan pinggirannya sudah sedikit mengeras
  • Angkat dan sisihkan di piring
  • Lakukan hal yang sama hingga adonan habis
  • Taburkan pancake dengan keju chedar parut dan tambahkan coklat toping
  • Setelah itu gulung pancake
  • Pancake Kurma Gulung Coklat Keju siap dihidangkan 
Selamat mencoba :)




Hati-hati dengan apa yang kamu baca dan apa yang kamu pikirkan!
Jika kamu membaca dan memikirkan hal positif maka dia akan membawa dan menuntunmu ke hal positif sesuai dengan apa yang kamu pikirkan.
Jika kamu membaca dan memikirkan hal negatif maka dia akan membawa dan menuntunmu ke hal negatif sesuai dengan apa yang kamu pikirkan.
So... Positive Thinking saja

Sekitar beberapa tahun yang lalu, saya sangat terhipnotis membaca novel-novel karya Andrea Hirata. Saya memiliki koleksi tetralogi Laskar Pelangi mulai dari novel Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor, dan Maryamah Karpov. Saking terhipnotisnya membayangkan tempat-tempat di pulau Belitung yang diceritakan di dalam novel-novel tersebut, alam bawa sadar saya secara tidak langsung mengatakan "suatu saat nanti saya akan ke Belitung". Hehe... dan nama blog saya juga terinspirasi dari novel tersebut :)



Dan kini ketika saya menulis postingan ini, saya berada di sebuah pulau yang dulu hanya terbayangkan melalui tulisan-tulisan Andrea Hirata dan di filmnya. Saat ini saya berada di Negeri Laskar Pelangi. 

Tangan Tuhan menjamah dan menggiring ke tempat ini melalui suratan takdirNya.
Terkadang Tuhan menjawab keinginan kita dengan cara yang unik dan tak terduga.
Mozaik kehidupan mempertemukan saya dengan pulau ini.

Tuhan menakdirkan saya menginjak pulau ini melalui jodoh yang diberikan kepada Ibu saya.
Tak pernah terpikirkan sebelumnya, segalanya terjadi begitu cepat, dan tak terduga
Kami tak pernah berpikir ibu akan menikah untuk kedua kalinya dengan orang Belitung pula.

Tak pernah terpikirkan pula kalau saya dan keluarga akan berpuasa dan berlebaran di Belitung.
Biasanya kami hanya berpuasa dan berlebaran di Makassar dan tak pernah mudik (Meskipun kami adalah orang Bugis-Bone asli tapi kami tak pernah mudik, karena kakek-nenek dan keluarga besar lebih banyak tinggal di Makassar).

Tak pernah terpikirkan juga, mendapatkan keluarga besar baru yang begitu ramah, hangat, dan menyenangkan.

Tanggal 13 Juli 2014, bertepatan dengan ulang tahun Ibu saya. Saya menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di tanah belitung. Saya berangkat sendiri karena ibu saya sudah duluan berangkat sebelum Ramadhan. 

Dari Makassar - Belitung harus transit dulu di Jakarta, menunggu pesawat ke Belitung selama sekitar 3 Jam di Bandara Soekarno Hatta. Jakarta - Tanjung Pandan (Ibukota Belitung) hanya di tempuh dalam waktu 45 menit.

Melihat pulau Belitung dari atas pesawat ketika akan mendarat sungguh memanjakan mata. Bagaikan hamparan permadani hijau dan bukit-bukit nan hijau yang dibentangkan Tuhan di tanah belitung. Dari kejauhan saya dapat melihat hamparan kebun sawit yang tertata rapi. Memasuki tengah pulau, mulai terlihat beberapa area pasir putih yang merupakan bekas tambang timah. 

Tanjung Pandan, sebuah kota yang tenang, nyaman, dan bersih. Rumah-rumah tertata rapi, tak ada pemukiman padat penduduk. Rumah-rumahnya berhalaman luas dan bersih. Orang-orangnya ramah dan terbuka. Etnis melayu dan tionghoa hidup berbaur, berdampingan dengan damai dan saling menghargai (Maaf sebelumnya berbeda dengan di Makassar, etnis Tionghoa terkesan menutup diri dan sangat protektif). 

Tak ada angkot disini ataupun kendaraan umum lainnya seperti taksi, becak, dan bus. Hanya ada kendaraan pribadi seperti motor dan mobil.
Jadi masyarakat di Tanjung Pandan sebagian besar memiliki motor sebagai alat transportasi untuk menunjang aktivitas keseharian mereka.

Sebagai pecinta wisata kuliner dan seafood, disini surganya makanan laut yang segar-segar dan tentunya harganya murah. Ikan, kepiting, udang, cumi, kerang ukurannya jumbo-jumbo dan segar. Hehe... berat badan makin naik disini. (Untuk kuliner akan saya bahas di postingan yang berbeda)

Terus terang saya semakin jatuh cinta dengan pulau ini. Benar-benar nyaman dan tenang.



Masih banyak yang seru-seru di sini, tunggu postingan selanjutnya
Bersambung >>>> 










Newer Posts Older Posts Home

Verified Blog

Seedbacklink

Search This Blog

ABOUT ME

POPULAR POSTS

  • Cara Meletakkan Label Pada Menu Navigasi
  • Handsock Indblack, Cantik dan Elegan Menutupi Auratmu
  • Dukung Asian Games 2018, Bagi Ceritamu dan Menangkan Hadiahnya
  • Give Away Blog Nunu Sang Pemimpi
  • Mudahnya Membuat Paspor Tanpa Calo
  • Kartunet Kampanye Aksesibilitas Tanpa Batas | Menengok Aksesibilitas Di Kota Makassar
  • Film Athirah : Kisah Ketegaran Perempuan Bugis
  • Makassar Atau Ujung Pandang ???
  • 11 Hal Ini Bikin Jatuh Hati dengan Asus Zenbook 13 UX331UAL
  • Mengenal Google Analytics dan Memasang Kode Pelacakan di Blog
Powered by Blogger.

Followers

Labels

agritech ai aksesibilitas artificial intellegence asuransi asus Award baju distro baju lebaran Bantimurung Objek Wisata Terbaik Di Sulawesi Selatan BCA beasiswa lpdp berbagi bihun goreng blockchain blogger Blogger Nusantara Blogger Perempuan bloggerday blogging blogholicid bloglicious bodysuit bts bubur bubur manado budaya Buku busana muslim buzzer casio cerita challenge cheddar cloud computing Curhat Descendants of The Sun digital digitalisasi disabilitas Disclosure doa anak doa bangun tidur drama korea E-Business e-voting Email film fotografi gadget galaukan setan Gerak Jalan Santai handsock hijab HUT Sulawesi Selatan IndiHome indonesia Info Info. Blogging inovasi internet internet provider iot job review kartu AS kecerdasan buatan keju kesehatan Kipas Angin Miyako klinik komunitas kopdar kraft Kucing Kuliah kuliner laptop LAPTOP GAMING lebaran Lomba lpdp makanan indonesia makassar manado maros masyarakat media Media Sosial medikids Mind Miss Deaf mom blogger Monetize multigrain musik Nunu Nunu Amir Nunu Talk oreo other pandangan pantai losari pemilu pengalaman personal branding Pesantren Impian Puisi pustaka kampung impian radio ramadhan RBT religi reportase resensi buku resep Resolusi Juara review robotic robotic process automation samsung galaxy s6 samsung galaxy s6 edge sehat Sekolah Blog SEO sharing sinarmas slice of life smart contract smartphone Social Media Song Hye Kyo Song Joong Ki sosial sponsored post startup strartup surat cinta untuk kartini tabungan online telkom university TelkomIndonesia Teman Wajib Anda time toefl toleransi Tourism transformasi digital traveling tutorial Tutorial Blog Tutorial Web Design uang panai unik uricran useetv video waktu webinar website wonderful Workshop Writing zenfone 9

Blog Archive

  • ▼  2025 (4)
    • ▼  December (1)
      • ASUS Vivobook S14 M3407KA Berikan Pengalaman Lapto...
    • ►  September (2)
    • ►  April (1)
  • ►  2024 (35)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  August (1)
    • ►  July (2)
    • ►  April (2)
    • ►  March (12)
    • ►  February (7)
    • ►  January (9)
  • ►  2023 (7)
    • ►  August (2)
    • ►  July (2)
    • ►  May (2)
    • ►  April (1)
  • ►  2022 (35)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (2)
    • ►  September (6)
    • ►  August (6)
    • ►  July (2)
    • ►  June (3)
    • ►  May (5)
    • ►  April (1)
    • ►  February (5)
    • ►  January (3)
  • ►  2021 (22)
    • ►  December (2)
    • ►  November (6)
    • ►  October (2)
    • ►  September (3)
    • ►  August (2)
    • ►  June (2)
    • ►  May (1)
    • ►  April (1)
    • ►  March (1)
    • ►  February (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2020 (18)
    • ►  November (1)
    • ►  September (4)
    • ►  August (1)
    • ►  June (1)
    • ►  May (1)
    • ►  April (4)
    • ►  March (1)
    • ►  February (3)
    • ►  January (2)
  • ►  2019 (2)
    • ►  February (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2018 (13)
    • ►  December (2)
    • ►  November (3)
    • ►  October (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
    • ►  March (1)
    • ►  January (2)
  • ►  2017 (26)
    • ►  July (4)
    • ►  June (2)
    • ►  May (3)
    • ►  April (5)
    • ►  March (2)
    • ►  February (3)
    • ►  January (7)
  • ►  2016 (75)
    • ►  December (2)
    • ►  November (14)
    • ►  October (8)
    • ►  September (13)
    • ►  August (1)
    • ►  July (5)
    • ►  June (13)
    • ►  May (6)
    • ►  April (10)
    • ►  March (3)
  • ►  2015 (18)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (2)
    • ►  September (1)
    • ►  August (1)
    • ►  July (2)
    • ►  June (2)
    • ►  May (2)
    • ►  March (1)
    • ►  February (3)
    • ►  January (2)
  • ►  2014 (13)
    • ►  December (2)
    • ►  November (1)
    • ►  July (3)
    • ►  June (2)
    • ►  April (1)
    • ►  March (2)
    • ►  February (2)
  • ►  2013 (32)
    • ►  December (4)
    • ►  November (1)
    • ►  October (3)
    • ►  September (1)
    • ►  July (1)
    • ►  June (1)
    • ►  May (6)
    • ►  April (2)
    • ►  March (3)
    • ►  February (7)
    • ►  January (3)
  • ►  2012 (46)
    • ►  December (1)
    • ►  November (3)
    • ►  October (4)
    • ►  September (6)
    • ►  August (2)
    • ►  July (3)
    • ►  June (4)
    • ►  May (1)
    • ►  April (6)
    • ►  March (4)
    • ►  February (6)
    • ►  January (6)
  • ►  2011 (57)
    • ►  December (4)
    • ►  November (13)
    • ►  October (14)
    • ►  September (2)
    • ►  August (5)
    • ►  July (8)
    • ►  June (7)
    • ►  May (1)
    • ►  April (3)

Sidebar Ads

Total Pageviews

Subscribe To

Posts
Atom
Posts
All Comments
Atom
All Comments

Designed by OddThemes | Distributed By Gooyaabi Template