Mengenali Inner Child di Dalam Diri




Halo, Semangat Pagi!

Pecinta drama korea (drakor) pasti tahu dong drama It's Okay to Not Be Okay. Drama ini bukan hanya meyuguhkan kegantengan Kim So-Hyun (hehehe... bikin gagal fokus ya) tapi juga kental dengan isu kesehatan mental. Masing-masing tokoh utama memiliki luka kelam di masa kecilnya dan terbawa hingga kehidupan dewasa atau dikenal juga dengan inner child

Sebenarnya inner child itu apa? apakah saya, kamu, dan semua orang punya inner child? apakah inner child itu selalu negatif? bagaimana mengenali inner child di dalam diri? dan bagaimana penyembuhannya?

Wow... banyak sekali pertanyaannya gengs!

Untuk menjawab keingintahuan saya tentang inner child, beberapa minggu ini saya ikutan kelas Embrace Your Innerchild & Be Happy bersama mbak Intan Maria Lie, Psychotherapist dan Coach dari Ruang Pulih dan dr. I Gusti Rai Wiguna, Sp.KJ, seorang psikiater dari Sehat Mental Care Clinic. Kelas ini diselenggarakan selama 7 hari pendampingan di WA dan Zoom. Selain itu saya juga ikutan parade Inner Child Healing berupa webinar setiap minggu malam selama 5 minggu berturut-turut. Benar-benar dapat ilmu luar biasa dari kelas ini begitupun juga dengan webinarnya.

Lalu saya dapat apa saja dari kelas Embrace Your Innerchild & Be Happy?

  • Mengenali jenis emosi
  • Mengenali innerchild, innerparent, adultself
  • Emptychair (Gesalt Therapy) for trauma healing
  • Breathing (Pernafasan Pengendali Emosi)
  • Journaling (Peta Pikiran Innerchild & Innerparent)
  • Kesadaran akan trauma dan perilaku  autopilot
  • Forgiveness therapy
  • Free komunitas Grup Innerchild Therapy selama 1 tahun 

Mengenali Jenis Emosi

Pelajaran dasar dari inner child healing adalah mengenali jenis emosi terlebih dahulu karena perasaaan trauma atau apa yang terbentuk dalam inner child terbangun dari suasana perasaan dan emosi, tutur dokter Rai saat membahas materi perdana dari kelas Embrace Your Innerchild & Be Happy. 

Secara garis besar emosi terdiri dari beberapa jenis :
  • Marah (Mad)
  • Takut (Scared)
  • Bahagia (Joyful)
  • Merasa Bersemangat (Powerful)
  • Merasa Damai (Peachful)
  • Sedih (Sad)
Oke, sebagai manusia kita tentunya pernah merasakan emosi-emosi diatas bukan? 

Tetapi selain mengenali enam emosi dasar diatas, kata dr. Rai kita bisa lebih mengenali emosi kita secara detail dan spesifik. Misalnya emosi marah bukan merupakan emosi primer tapi ada sesuatu dibalik kemarahan tersebut atau hal-hal apa yang mendasari emosi tersebut. Misalnya kita marah karena merasa tersakiti, lelah, frustasi, dan sebagainya. Atau misalnya perasaan takut terjadi karena cemas, tidak tertolong, gelisah, insecure. Perasaan bahagia juga didasari oleh berbagai emosi seperti merasa bebas, bersemangat, merasa puas. Ketika kita sedih kita harus belajar mencari tahu dibalik kesedihan kita hal-hal apa yang mendasari rasa sedih itu apakah kesepian, kelelahan, merasa bosan, merasa bersalah, dan sebagainya. Ketika merasa bersalah yang adalah perasaan menyesal, ketika kita merasa baru maka kita sedang merasa bodoh, dan sebagainya. Pada intinya kita bisa mengenali secara spesifik suasana perasaan kita. Berikut adalah lingkar perasaan dimana kita bisa lebih mengenali emosi-emosi yang ada di dalam diri kita.


Semua emosi yang kita rasakan tersebut ada gunanya. Setiap emosi tersebut memiliki fungsi masing-masing. 
  • Amarah : melecut semangat menghadapi masalah
  • Antisipasi : melihat kedepan dan merencanakan
  • Gembira : mengingatkan kita pada hal penting
  • Percaya : untuk terkoneksi dengan orang yang menolong kita
  • Takut : untuk melindungi kita dari bahaya
  • Kaget : untuk membuat kita fokus dengan situasi yang baru
  • Sedih : untuk menghubungkan kita dengan orang-orang yang kita sayangi
  • Jijik : untuk menolak hal-hal yang tidak sehat
Wow ternyata bukan hanya perasaan positif yang penting, perasaan negatif juga ternyata bukan hal yang buruk. Yang penting kita tahu pesan dari emosi tersebut. Jadi tidak selamanya kita harus berpikir rasional terus dan mengesampingkan pikiran emosional. Kata dr. Rai sebenarnya tidak demikian. Kita harus belajar bagaimana menggabungkan pikiran rasional dan emosional menjadi kebijaksanaan

Ada 3 Jenis Pikiran :
  • Pikiran Rasional  : apa yang masuk akal, keputusan yang diambil berdasarkan logika dan pengalaman, menekan atau mengabaikan emosi
  • Pikiran Emosional : apa yang terasa nyaman, bersifat reaktif dan defensif, sering menentang pikiran rasional
  • Pikiran Bijaksana : Hasil dari penggabungan pikiran emosional dan rasional, bagaimana menyeimbangkan kedua pikiran tersebut
Nah gaes....dengan mengenali emosi yang ada dalam diri kita lebih mudah menemukan inner child dan memulihkannya.

So... mulai hari ini mari kita kenali lebih detail emosi kita!


Mengenali Inner Child dan Wounded Child

Sebenarnya apa itu Inner Child?

Dari paparan dr. Rai, inner child itu adalah bagian dalam diri seseorang yang terbentuk dari pengalaman dri di masa kecil. Setiap orang punya inner child karena kita tidak dilahirkan dari dewasa. Inner child memberntuk kepribadian seseorang saat dewasa. Intinya inner child itu adalah anak kecil alam tubuh kita yang sekarang.

Beberapa hal yang memicu inner child antara lain :
  • Perceraian orang tua
  • Kekerasan/bullying
  • Pelecehan seksual
  • dan hal-hal yang bersifat traumatis
Adapun dampak inner child ketika kita dewasa adalah :
  • Insecure
  • Menyakiti diri sendiri
  • Menyalahkan diri sendiri
  • dan hal-hal yang merugikan diri sendiri
4 (empat) tahapan inner child :
  1. Inner child yang ditutupi/di blok (tidak terhubung dengan inner child). Di tahap ini seseorang tidak percaya bahwa ada inner child dalam dirinya, jika berlatih mengasuh inner child maka dia akan merasa konyol karena sedari awal dia memang tidak percaya
  2. Fantasi inner child, pada tahap ini seseorang bertahan dengan emosi-emosi baik dan melupakan emosi-emosi negatif untuk mempertahankan fantasi yang dipercayai. Mencitrakan yang baik-baik saja atau berpura-pura baik-baik saja. Tanda-tandanya suka melamun, keputusan orang tua msih mendominasi, belum menjadi dewasa sepenuhnya
  3. Inner child ekpresif, tahap dimana seseorang memiliki kesadaran dan mampu menjadi saksi. Orang tersebut bisa berbicara, menghargai dan memvalidasi inner childnya. Tahap siap untuk melakukan terapi
  4. Inner child terintegrasi, tahap dimana seseorang memiliki kesadaran dan penerimaan terhadap inner childnya. Sudah tidak fokus lagi terhadap luka tapi lebih memaknai pelajaran apa yang bisa didapatkan
So, kita harus paham terlebih dahuluu kita berada di tahapan yang mana. Kamu di tahap yang mana?

Luka inner child bisa berasal dari orang-orang terdekat, terutama dari orang tua. dr. Rai menjelaskan beberapa luka dari orang tua yang membentuk karakter kita.

Luka dari Ayah :
  • Masalah kepercayaan : jika ayah tidak hadir sepenuhnya dalam hidup maka seorang anak bisa mengalami krisis kepercayaan dalam dirinya maupun orang lain
  • Merasa tidak cukup baik : jika ayah terlalu keras maka muncul perasaan "tidak cukup baik" atau "tidak cukup berharga"
  • Masalah penyiksaan : jika menyaksikan ayah menyiksa ibu atau mengalami penyiksaan dari ayah, maka akan muncul pemikiran bahwa seperti itulah hubungan itu berjalan. atau jika ayah terlalu mengontrol dan dominan maka anak tersebut bisa menekan jati dirinya adan sulit membuat batasan dengan orang lain
  • Masalah pengabaian : jika ayah secara emosional tidak hadir. Maka akan merasa takut sendirian ataupun ditinggalkan 
 Luka dari Ibu :
  • Batasan yang lemah : tidak mampu berkata "tidak" dan tidak menghargai ruang privatmu sendiri. Luka ini timbul dari menyaksikan ibu selalu berusaha menyenangkan orang lain dan tidak memprioritaskan dirinya. Sulit mengatakan hal yang benar-benar ingin disampaikan dan selain ingin menyenangkan orang lain
  • Perasaan bersalah : sering mengatakan "aku merasa buruk" atau "aku merasa bersalah", jika ada hal baik yang terjadi pada diri sendiri cenderung merasa tidak pantas mendapatkannya. Ketika ibu terlalu permisif
  • Ko-Dependensi : Kamu takut sendirian sehingga mengikat diri dengan orang lain mengikat diri dengan orang lain untuk mengisi kekosongan. 
  • Masalah harga diri : merasa tidak berharga dan membandingkan diri dengan orang lain
Mari kita renungkan beberapa hal diatas, apakah itu terjadi pada diri kita. dr. Rai juga menjelaskan tentang ciri-ciri inner child yang terluka dan inner child yang sudah pulih.

Ciri-ciri inner child yang terluka :
  • Punya adiksi emosional terhadap stress, kekacauan, dan pengkhianatan
  • Semua sikap adalah usaha untuk mendapatkan validitas dari orang lain
  • Menginginkan pasangan untuk menyelamatkan, membenahi, serta membuat aman
  • Pilihan-pilihan hidup dibuat untuk menyenangkan orang tua
  • Relasi-relasi mencerminkan pola pengalaman masa kecil
Ciri-ciri inner child yang pulih :
  • Berusaha untuk menemukan sudut pandang kecil mengenai kedamaian dan ketenangan setiap harinya
  • Memenuhi janji kepada diri sendiri untuk mengurangi kebutuhan mencari validitas dari orang lain
  • Menginginkan pasangan yang tumbuh dan pulih bersama
  • Merasa berharga walaupun orang tua salah memahami maksud kita
  • Relasi-relasi semua berdasarkan dari kebebasan, tanggung jawab, serta kedamaian

Nah gaes... dari sharing ilmu diatas kita tentunya bisa lebih paham tentang emosi kita dan inner child yang ada di dalam diri kita.

Semoga bermanfaat!


Post a Comment

Silakan Berikan Komentar, Saran, dan Kritik Untuk Postingan Ini, yang sopan ya ^^ dan please jangan spam

My Instagram

Designed By OddThemes | Distributed By Blogger Templates