Pneumonia, Pembunuh Anak Nomor Satu Di Dunia

 


 

Bayi Azkiatunnufus berusia lima bulan diduga mengalami radang paru-paru atau Pneumonia. Bayi Azkiatunnufus mulai mengalami penyusutan badan sejak berusia tiga bulan, Kini daging pada tangan, kaki, dan badannya mulai habis menyusut. Kulitnya kendor menempel dengan tulang, kondisi tersebut membuatnya lemah bergerak. (suarajakarta.id)

 

Sejak bayi, Adam harus menahan sakit karena Pneumonia atau infeksi paru, kelainan usus, dan gejala hernia yang mulai menyerangnya. Tiap malam, adam terus menangis karena rasa sakit yang dideritanya. Namun, banyaknya pengobatan yang dibutuhkan tidak memungkinkan Adam bisa menjalani semuanya. (kitabisa.com)


Sumber foto : kitabisa.com dan suarajakarta.id

Tentang Pneumonia

Tahukah Anda bahwa Pneumonia merupakan salah satu penyebab kematian tertinggi pada anak-anak di seluruh dunia?

Menurut data dari Badan Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) diperkirakan 15% kematian pada anak-anak berusia di bawah 5 tahun disebabkan karena Pneumonia. Di Nigeria setiap tahunnya sekitar 142.000 hingga 160.000 anak di bawah usia lima tahun meninggal karena Pneumonia. Selain Nigeria, India berada di urutan kedua dengan 127.000 kematian, disusul Pakistan dengan 58.000 kematian.

Bagaimana dengan Indonesia?

Diawal tulisan ini ada beberapa kutipan berita anak yang menderita Pneumonia. Ada bayi Azkiatunnufus yang baru berusia lima bulan dan harus berjuang melawan Pneumonia yang dideritanya. Ada juga Adam, selain mengidap Pneumonia juga terdapat penyakit lainnya, yang Strong ya dedek bayi! Semoga penyakitnya segera diangkat dan bisa sehat kembali.

Indonesia juga tercatat sebagai negara dengan tingkat kematian yang tinggi, sebanyak 19.000 balita meninggal karena Pneumonia atau sama dengan dua anak mati tiap jamnya. Penyakit ini menjadi pembunuh nomor satu anak-anak di Indonesia dengan persentase 16% kematian pada balita. Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia satu dari lima kematian balita di Indonesia disebabkan oleh Pneumonia. Penyakit ini lebih mematikan dibanding  diare, malaria, HIV/AIDS, maupun campak. Hiks... sedih ya!

Pneumonia atau paru-paru basah adalah peradangan paru-paru yang disebabkan oleh infeksi. Pneumonia bisa menimbulkan gejala yang ringan hingga berat. Beberapa gejala yang umumnya dialami penderita Pneumonia adalah batuk berdahak, demam, dan sesak napas. 

Kenali gejala pada anak

Pneumonia pada anak bisa disebabkan karena virus, bakteri, parasit ataupun jamur yang ada di udara. Anak-anak dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah karena kekurangan gizi atau tinggal di daerah dengan kualitas udara dan air yang buruk memiliki resiko lebih besar terkena Pneumonia.

Gejala awal Pneumonia mirip dengan flu seperti pilek dan sakit tenggorokan. Kemudian akan menyebar ke saluran pernapasan bawah yaitu paru-paru kemudian akan terjadi penumpukan cairan, sel darah putih dan kotoran. Saluran napas menjadi tersumbat sehingga menyebabkan sesak napas.




Gejala Pneumonia pada anak bisa berbeda tergantung penyebabnya, antara lain :

  • Jika disebabkan oleh bakteri, gejala muncul dengan cepat dan tiba-tiba seperti : batuk berdahak, nyeri dada, muntah atau diare, nafsu makan berkurang, tubuh lemas, dan demam;
  • Jika disebabkan oleh virus, mirip dengan gejala yang disebabkan oleh bakteri hanya saja gejalanya muncul perlahan;
  • Jika disebabkan oleh parasit atau jamur, gejalanya agak berbeda. Tidak diawali dengan pilek namun gejalanya seperti demam dan batuk, batuk yang tidak kunjung reda, dan dapat bertahan hingga tiga atau empat minggu, batuk yang cukup parah, hingga berdahak.

Membaca gejala diatas mirip-mirip ya dengan gejala Covid-19. Memang sulit membedakannya. Sebaiknya jika terdapat gejala segera bawa anak ke dokter. Dokter akan memeriksa pola pernapasan,  jantung, tekanan darah, suhu tubuh, dan mengecek suara napas abnormal dari paru-paru. Untuk pemeriksaan lanjutan dokter akan melakukan rontgen dan tes darah.

Lalu adakah cara untuk mencegah Pneumonia pada anak?

Ada dong, sedini mungkin sebaiknya lakukan vaksinasi PCV atau Pneumococcal Conjugate Vaccine. Pada anak dibawah usia satu tahun, vaksin diberikan dengan dosis tiga kali, yaitu usia 2,4, dan 6 bulan.

Yuk kita pegangan tangan, bersama lawan Pneumonia pada anak. Cegah dengan memberikan gizi yang baik, lakukan vaksinasi, jaga lingkungan sekitar agar kualitas air dan udara menjadi lebih baik. Kenali gejalanya pada anak dan segera bawa ke dokter. Bersama kita bisa!



 

Sumber :

https://www.alodokter.com/pneumonia

https://www.sehatq.com/artikel/kenali-gejala-pneumonia-pada-anak-dan-cara-mencegahnya-berikut-ini

https://www.unicef.org/indonesia/id/stories/6-fakta-pneumonia

https://jakarta.suara.com/read/2020/09/05/074149/bayi-azkiatunnufus-penderita-pneumonia-akhirnya-dibawa-ke-rumah-sakit?page=all

https://blog.kitabisa.com/tanpa-kehadiran-orang-tua-bayi-adam-berjuang-lawan-pneumonia/

https://mediaindonesia.com/read/detail/351006-pneumonia-mirip-gejala-covid-19-kenali-gejalanya-pada-anak

https://republika.co.id/berita/qjoxrj1819274043/ratusan-ribu-anak-di-nigeria-meninggal-karena-pneumonia

https://kumparan.com/beritaanaksurabaya/cara-hitung-napas-anak-yang-jadi-tanda-pneumonia-1uDo1AS7IvO/full

https://www.ayojakarta.com/read/2019/11/12/7655/darurat-tiap-jam-pneumonia-membunuh-dua-anak-di-indonesia

 


 

 

 

 

 

 

 

Post a Comment

Silakan Berikan Komentar, Saran, dan Kritik Untuk Postingan Ini, yang sopan ya ^^ dan please jangan spam

My Instagram

Designed By OddThemes | Distributed By Blogger Templates